Buat Apa Hidup?

August 18, 2012 at 11:03 pm (Artikel Mutiara Hati)

Oleh: Ilham Permadi

Semua makhluk hidup akan merasakan mati. Tak terkecuali manusia. Semua orang tak akan luput dari malaikat maut. Namun apakah yang terjadi setelah mati? Pertanyaan ini sangat membuat orang penasaran. Sampai konon ada penelitian ilmiah mengenai “life after death” yang meneliti khusus apa yang manusia alami setelah kematian. Namun karena keterbatasan nara sumber, maka data-data yang didapat sangatlah minim. Penelitian secara ilmiah mengenai “life after death” hanya membawa semakin banyak tanda Tanya besar.

Bagi anda yang mempercayai, tak perlu repot-repot. Cukup merujuk kepada Al-Qur’an. Berikut adalah tahapan-tahapan yang dilalui secara singkat [1]. Citation masih perlu dilengkapi mengingat keterbatasan ilmu penulis.

1. Dicabut nyawa

Pada saat ini, ruh dicabut dari raga manusia. Ketika ajal tiba, tak sesaat pun dapat ditunda (QS 10:49). Lari ke ujung dunia sekalipun, takkan menghindarkan manusia dari ajal (QS 62:8).

2. Alam kubur

Azab oleh karena perbuatan manusia sebagian terjadi disini.

3. Kiamat

Sangkakala oleh malaikat Israfil ditiup, membinasakan apapun yang ada di langit dan bumi kecuali apa yang dikehendaki oleh Allah SWT (QS 39:68).

4.  Hari Berbangkit

Sangkakala ditiup kembali kembali untuk yang kedua kalinya, kemudian manusia bangkit dari matinya (QS 39:68). Kemudian manusia diberitakan kembali apa yang telah dikerjakannya (QS 58:6).

5. Padang Mahsyar

Seluruh manusia dihadapkan kehadirat Allah SWT (QS 14:48). Ketika dikumpulkan disini, manusia seakan-akan hidup hanya sesaat saja di dunia (QS 10:45). Malaikat-malaikat dan Jibril naik kepada Rabb dalam sehari yang kadarnya 50,000 tahun (QS 32:4).

6. Syafa’at

Privilege khusus yang diberikan kepada umat Nabi Muhammad SAW.

7. Hisab

Tiap-tiap manusia berlutut dan dipanggil untuk melihat buku catatan amalnya (QS 45:28).

8. Pembagian catatan amal

Manusia akan diberi kitab amal yang mencakup semua amalan yang pernah dikerjakan manusia. Yang amalnya baik, akan mendapat kitabnya dari sebelah kanan. Yang mendapat kitabnya dari belakang, maka ia akan berteriak: “celakalah aku”, dan ia masuk ke dalam api neraka (QS 84:7-12). Yang amalnya jelek, akan mendapat kitabnya dari sebelah kiri. (QS 69:25-31).

9. Mizan

Amalan-amalan ditimbang secara teliti. Tak sedikitpun manusia dirugikan (QS 21:47). Mereka yang kafir dan syirik, akan langsung masuk neraka.

10. Telaga

Umat Nabi Muhammad SAW akan mendatangi telaga, yang jika diminum tidak akan merasa haus selamanya.

11. Ujian keimanan seseorang

Orang-orang yang beriman dan munafik terlihat jelas dari seberapa terang cahaya yang dipancarkannya. Pada saat ini suasana gelap. Orang munafik bercahaya redup, sedangkan orang yang beriman bercahaya terang (QS 57:13).

12. Shirat

Adalah jembatan yang dibentangkan di atas neraka jahannam, untuk disebrangi orang-orang mukmin menuju Jannah (surga).

Panjang perjalanan di akhirat nanti, sehingga hidup di dunia terasa hanya sekejap saja. Padahal yang diperhitungkan pada akhirat tak lain adalah amal semasa hidup di dunia. Ketika ajal tiba, putuslah segala urusan di dunia. Hilanglah kesempatan untuk memperbaiki amal. Apalagi untuk bertobat, telat sudah. Dalam hal ini, tak salah jika menyimpulkan bahwa kehidupan di dunia ini penting. Mengapa tidak? Waktu yang secuplik di dunia, mempengaruhi kehidupan yang abadi di akhirat. Pemikiran seperti ini akan membawa kita kembali bertanya, apakah tujuan kita hidup di dunia?

Jika anda percaya Al-Qur’an, maka pertanyaan seperti ini tak sulit dijawab. Tujuan hidup manusia tak lain hanya untuk ber-ibadah kepada Allah SWT (QS 51:56). Ibadah disini memiliki dimensi Vertikal (langsung kepada Allah SWT) dan Horizontal (kepada manusia & alam). Ibadah yang berdimensi Vertikal sudah cukup jelas tata caranya, seperti sholat, zakat, dll. Namun bagaimana mengenai ibadah secara horizontal? Apakah kita memiliki tugas/tujuan tertentu untuk sesama manusia dan alam-nya?

Bagi seorang muslim, mestinya tujuan hidupnya sudah jelas…yaitu memberikan manfaat bagi sekalian alam. Sangat tegas dan sederhana. Sesuatu yang tidak mendatangkan manfaat bagi manusia ataupun alam, maka hal itu sudah melenceng dari tugas/tujuan manusia hidup di dunia.

Jika dikaitkan dengan hasil penelitian Prof Martin Seligman (pakar positive psychology) mengenai kebahagiaan, maka tingkat kebahagiaan tertinggi dicapai melalui hidup yang bermakna (meaningful life). Hidup bermakna ini tak lain adalah menjalani hidup dengan memberikan manfaat bagi sesama manusia maupun alam. Kebahagiaan seperti ini mengalahkan kebahagiaan dari Hidup Berkesan/Senang (Pleasant Life) dan Hidup Baik (Good Life). Hidup berkesan berasal dari kebahagiaan yang didapat dari ketenaran, excitement akan sesuatu ataupun kepuasan dari konsumsi. Hidup baik berasal dari kebahagiaan yang didapat dari kekuasaan diri akan sesuatu, dapat melakukan sesuatu yang disukai, dll. Dari hasil penelitian ini, dapat kita simpulkan bahwa Allah SWT meniscayakan kebahagiaan di dunia kepada manusia yang memberikan manfaat bagi manusia maupun alam.

Menurut Rama Royani (penemu Talents Mapping), manusia dilengkapi oleh fitur-fitur unik yang dipasangkan secara built-in kepada setiap manusia agar dapat menjalankan tugasnya selama hidup dengan maksimal. Fitur-fitur ini berupa bakat. Bakat ini berbentuk kombinasi kepribadian/personality yang unik, yang berhubungan erat dengan produktifitas. Jika seseorang dapat bekerja sesuai dengan bakatnya, maka hasilnya akan luar biasa. Untungnya, tools untuk mengetahui bakat kita sudah ada (Talents Mapping). Maka itu, mestinya tak sulit untuk “mendeteksi” peran apa yang cocok kita emban. Peran yang cocok kita emban disini boleh dibilang sebagai “Tugas” spesifik yang diberikan Allah SWT kepada kita dalam memberikan manfaat bagi manusia sekalian alam.

Waktu adalah pedang.

Waktu adalah pembeda antara yang sudah terjadi dan yang akan terjadi. Antara yang tak dapat diubah dan yang masih mungkin diubah. Dengan menyadari betapa pentingnya hidup di dunia, maka semestinya kita benar-benar aware terhadap waktu yang kita lewatkan. Pengurangan umur manusia sudah pasti, yaitu berkurang 24 jam dalam sehari. Tak dapat dimajukan maupun dimundurkan ketika ajal telah tiba.

Maka itu selayaknya manusia tetap fokus terhadap tugasnya beribadah, secara Vertikal maupun Horizontal. Secara horizontal, banyak sekali tugas yang diemban seorang manusia. Bagi seorang ayah, maka terdapat tugas-tugas sebagai ayah. Bagi seorang karyawan, maka terdapat tugas-tugas sebagai karyawan, dsb. Kesemua tugas yang diemban seorang manusia, memiliki tujuan satu. Yaitu memberikan manfaat bagi manusia sekalian alam.

Marilah kita mengingatkan diri sendiri mengenai penggunaan waktu di dunia ini. Marilah kita menelaah kembali penggunaan waktu kita, apakah bernilai ibadah atau tidak. Ibadah secara vertical maupun horizontal. Mengapa? Karena waktu di dunia pasti habis, dan tak mungkin kembali lagi.

[1] http://www.taushiyah-online.com/index.php?page=taushiyah/detail_Tausyiah&idT=100

Permalink Leave a Comment

Next page »